Senin, 22 Agustus 2011

SINOPSIS “T A N T A N G AN” Cerita & Skenario: Ruli Harmadi & Dedi Fasmadi


AYAH (60 Tahun/ Presiden Direktur) memberitahu pada dua anak tertuanya, TANGAH (28 Tahun) dan SULUNG (35 Tahun), bahwa dia akan mengangkat BUNGSU (21 Tahun/ pintar/emosional) menjadi manajer di Perusahaan yang sangat prospektif. Tangah memprotes Ayah karena Bungsu hanya akan menghancurkan perusahaan itu dan berkelahi saja dengan para kompetitor. Mereka heran mengapa Ayah tidak menunjuk mereka saja padahal mereka senantiasa mengagumi dan membanggakan kebijakan Ayah mereka menjalankan bisnis.
Ayah mengetahui bahwa Bungsu adalah anaknya yang paling pintar. Dia telah mengajarkan pada Bungsu seluruh pengetahuan bisnisnya. Ayah memerintahkan pada kedua kakaknya untuk memaparkan visi bisnis mereka ke di masa depan jika mereka memang capabel. Tentu saja mereka tidak mengetahunya selain sedikit saja dari yang Ayah ajarkan pada mereka. Keduanya mengakui Ayah yang telah berpengalaman lebih mengetahui seluk beluk bisnis. Ayah menyuruh Bungsu untuk menjelaskan visinya ke depan.
Maka setelah Bungsu memberitahu pada kedua kakaknya itu, Ayah bertanya “Bukankah sudah ku katakan, Aku lebih mengetahui seluk beluk bisnis dan mengetahui apa yang kalian ketahui dan kemampuan Bungsu?” Kemudian Ayah memerintahkan pada kedua anaknya “Bersumpahlah patuh kalian pada Bungsu”. Maka merekapun bersumpah kecuali Sulung. Dia tidak termasuk yang patuh.
Ayah heran dan menanyakan apa yang menghalanginya untuk bersumpah di waktu Dia menyuruhnya. Dengan angkuh Sulung mengatakan dia lebih baik dari Bungsu. Dia lebih tua, berpengalaman dan lebih tangguh daripada Bungsu. Mendengar jawaban Sulung, Ayah malah memecat Sulung dari semua jabatan yang dipegangnya dan mengusirnya. Kau tidak sepatutnya menyombongkan diri, maka keluarlah, sesungguhnya kau termasuk orang  hina.
Penuh kepahitan Sulung mengatakan pada Ayah karena beliau telah mengusirnya, dia benar-benar akan menghancurkan Bungsu dari perintah Ayah mereka  dengan segala cara. Ayah akan mendapati Bungsu juga akan gagal. Dengan hati yang hancur Sulung mohon pada Ayah agar beliau memberi kesempatan padanya untuk menghancurkan Bungsu. Ayah yang adil mengabulkan permintaan Sulung karena dia percaya akan ketangguhan Bungsu. Ayah segera mengusir Sulung sebagai orang terhina tidak membawa apa-apa. Ayah berjanji jika Bungsu bandel dan mengikuti nasehat Sulung dia akan menghukumnya juga dengan sangat keras.
Ayah menyuruh Bungsu  dan ISTRI (17 Tahun) mengelola Studio Perfilman. Tapi melarang mereka berdua jangan ikut terlibat menjadi aktor. Awalnya semua berlangsung lancar. Lalu Sulung membujuk keduanya dengan tipu daya. Sulung membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk membintangi film panas dan mengatakan Ayah tidak melarangnya jadi artis, melainkan supaya mereka berdua tidak populer dan terkenal. Sulung bersumpah pada keduanya dia memberi nasehat tanpa pamrih apapun.
Tatkala keduanya telah beradegan panas, tersebarlah ke media massa. Mereka panik dan berusaha menghentikan penyebarannya. Tapi akhirnya Ayah tahu juga. Penuh kecewa dan marah Ayah mengatakan bukankah dia telah melarang mereka berdua menjadi artis  dan telah menasehatkan bahwa Sulung adalah musuh mereka.  Nasi telah menjadi bubur. Keduanya mengakui telah mempermalukan diri mereka sendiri. Penuh penyesalan mereka minta Ayah memaafkan mereka dan memberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.
Ayah konsekuen mengusir mereka berdua. Tapi Ayah tetap menugaskan mereka mengelola perusahaannya yang paling prospek. Bungsu menerima beberapa nasehat dari Ayah, maka Ayah memaafkannya anak kesayangannya. Ayah menyuruh Bungsu segera bekerja. Ayah akan tetap memberi instruksi kepadanya agar Bungsu sukses. Tapi kalau dia tidak menjalankannya, perusahaan itu akan hancur. Perusahaan itu adalah kesempatan terakhir untuk membuktikan kemampuannya. Ayah menasehatkan agar Bungsu jangan sampai ditipu kedua kalinya oleh Sulung. Ia dan mata-matanya  selalu mengintai Bungsu tanpa dia bisa mengetahuinya. Akankah Bungsu berhasil?



SINOPSIS “The Tao of Sufism” CERITA & SKENARIO : Ruli Harmadi & Dedi Fasmadi


Studi kasus atas Hasan Basri, Wali dari Ulakan, Minangkabau

Dalam tradisi Islam dikenal kisah Nabi Musa menuntut ilmu pada Khidir. Siapakah nabi khidir? Dia adalah seorang wali yang mendapat ilmu dari Tuhan. Dalam negeri Islam kepercayaan akan wali hampir mirip dengan kisah reinkarnasi Dalai Lama di Tibet.
Cerita ini berawal dari pertemuan dengan seseorang yang bernama Hasan Basri (70-an tanun). Dari pihak bapak, beliau adalah keturunan dari Tuanku Nan Garang, salah seorang panglima Imam Bonjol, sedangkan dari pihak ibu dia berhubungan keluarga dengan AR.Sutan Mansur, salah satu tokoh Muhamadiyah yang sangat dihormati. Beliau lahir di daerah Ulakan, daerah asal Syekh Burhanudin yang menyebarkan agama Islam di pantai Barat Minangkabau, dan hingga kini makamnya masih ramai diziarahi.
Menurut beliau, dia adalah guru dari Buya Hamka, salah seorang ulama Indonesia yang sangat dihormati, pendiri Mesjid Al Azhar di Kebayoran, Jakarta Selatan. Menurut beliau dia menceritakan perjalanan hidupnya pada Hamka, yang kemudian ditulis menjadi buku Tasawuf Modern. Sejak muda dia hidup mengembara. Saat ini Hasan Basri tinggal di Sumatra Barat. Benarkah Hasan Basri memang benar-benar seorang wali yang masih hidup saat ini? Menurut Al Gazali, salah seorang pakar tasawuf mencari seorang wali ibarat mencari safir merah yang benar-benar langka.
Menurut Hasan Basri para pengikut tarekat adalah orang-orang yang berjalan menuju Tuhan. Tapi sangat sedikit yang bisa sampai. Mereka masih dalam perjalanan. Seorang Wali adalah orang yang sudah berhasil sampai menemui Tuhan. Salah satunya yang cukup terkenal di Jawa adalah Syekh Siti Jenar.
Melalui film dokumenter panjang ini, kita akan melihat keseharian hidupnya, wawancara atasnya dan pandangan beliau atas kejadian-kejadian aktual. Pendekatan yang diambil menggunakan paradigma New Age sebagai bentuk gerakan sadar diri seperti yang diajarkan Socrates ribuan tahun silam. Kenalilah Dirimu. Spiritualitas adalah hatinya agama. Menurut Danah Zohar dan Ian Marshall, Spiritual Quotient adalah puncak kecerdasan manusia, melebih IQ, EQ dan Multiple Intelligences lainnya. Menurut novelis James Redfield dalam The Celestine Prophecy, untuk mengubah dunia, kita harus mengubah diri kita terlebih dahulu. ( To change the world, we first had to change our selves)
Menurut Fisikawan genius Fritjof Capra penulis buku The Turning Point dan The Tao of Physics , dewasa ini dunia sedang diguncang krisis global multidimensional. Ini adalah krisis intelektual, moral dan spritual sekaligus. Nah para wali ini adalah Master yang mampu mengubah kesadaran dan persepsi manusia menuju jalan spiritual, jalan bagaimana seharusnya manusia menata hidupnya agar selaras dengan cara beroperasinya alam semesta.

Penutup


Penutup
Demikian, konsep baru film Darpin ini dibuat. Seperti yang telah dipaparkan di depan, bahwa The Circle adalah sebuah kisah fiksi tetapi mengambil ide dari mitologi Darpin, sebuah isme yang konon masih berkembang di suatu daerah di Jawa. Otomatis segala idiom dan ikon yang digunakan di sini tetap merujuk pada budaya Jawa yang ada hingga sekarang.

Mengenai character yang ada, sebagian akan dimainkan oleh aktor-aktor daerah yang ternama sehingga acting yang dihasilkan menjadi natural dan bisa menciptakan atmosfir Jawa yang lengkap. Pemasangan bintang-bintang muda yang tengah naik daun juga diperlukan, sehingga nilai komersil dari film ini tetap ada tetapi tidak meninggalkan kualitas permainan yang prima.

Cerita dan tokoh bisa jadi akan mengalami perkembangan atau perubahan setelah dilakukan riset di lokasi pengambilan gambar untuk penyesuaian atmosfir cerita berdasarkan geografis dan karakter masyarakatnya.

Ide penggarapan

Ide penggarapan
Teknik penggarapan menggunakan animasi 3D yang dipergunakan untuk perwujudan visual beberapa tokoh dan adegan-adegan yang fantastis. Karena sosok Darpin dan pengikutnya yang bisa berubah-ubah wujud, tentunya tidak mungkin digarap dengan teknik manual atau hanya mengandalkan kostum dan make up karakter semata. Demikian pula dengan ritual Darpin dalam mengubah mayat menjadi palawija, dan beberapa adegan lain yang membutuhkan efek animasi.

Efek-efek animasi 3D ini memiliki fungsi penting, karena ketika kita bersinggungan dengan dunia mistis yang penuh dengan hal-hal gaib di luar nalar, maka teknik animasi membantu untuk mempertegas visualisasi dari wujud-wujud yang mungkin tidak pernah kita temui di dunia nyata. Selain itu animasi berfungsi untuk membangun ritme cerita. Meskipun demikian, animasi di film ini porsinya di bawah 50 persen sehingga tidak mendominir adegan-adegan drama yang bersifat natural.

Musik pendukung di dalam film ini terdiri dari dua genre, yaitu modern yang mewakili Freaksi sebagai generasi muda dari kota besar. Sedangkan musik etno digunakan pada wilayah tradisional. Di situ dieksplorasi juga tembang-tembang Jawa.

konsep film "Darpin"

Setting cerita
Cerita ini berlangsung pada masa kini dan berlokasi di Jawa (70%) dan Jakarta (30%). Pedusunan terletak di kawasan daerah kering (semisal di Gunung Kidul) dengan landskap perbukitan batu yang dihiasi oleh hutan jati.

Tetapi bukan berarti unsur air tidak diperhatikan di sini, karena kawasan pantai yang indah di Gunung Kidul akan tetap dimaksimalkan sebagai setting dalam beberapa scene. Sehingga akan terjadi balancing visual dan kosmologi cerita dalam film ini, mengingat unsur tanah dan air tidak bisa dipisahkan begitu saja.

Dusun Harjo Binangun terdiri dari rumah-rumah sederhana. Dengan jumlah penduduk yang tidak padat. Di sana terdapat beberapa bangunan rumah Jawa, seperti limasan atau pendopo dengan setting dan property yang sederhana.