AYAH (60 Tahun/ Presiden Direktur) memberitahu pada dua anak tertuanya, TANGAH (28 Tahun) dan SULUNG (35 Tahun), bahwa dia akan mengangkat BUNGSU (21 Tahun/ pintar/emosional) menjadi manajer di Perusahaan yang sangat prospektif. Tangah memprotes Ayah karena Bungsu hanya akan menghancurkan perusahaan itu dan berkelahi saja dengan para kompetitor. Mereka heran mengapa Ayah tidak menunjuk mereka saja padahal mereka senantiasa mengagumi dan membanggakan kebijakan Ayah mereka menjalankan bisnis.
Ayah mengetahui bahwa Bungsu adalah anaknya yang paling pintar. Dia telah mengajarkan pada Bungsu seluruh pengetahuan bisnisnya. Ayah memerintahkan pada kedua kakaknya untuk memaparkan visi bisnis mereka ke di masa depan jika mereka memang capabel. Tentu saja mereka tidak mengetahunya selain sedikit saja dari yang Ayah ajarkan pada mereka. Keduanya mengakui Ayah yang telah berpengalaman lebih mengetahui seluk beluk bisnis. Ayah menyuruh Bungsu untuk menjelaskan visinya ke depan.
Maka setelah Bungsu memberitahu pada kedua kakaknya itu, Ayah bertanya “Bukankah sudah ku katakan, Aku lebih mengetahui seluk beluk bisnis dan mengetahui apa yang kalian ketahui dan kemampuan Bungsu?” Kemudian Ayah memerintahkan pada kedua anaknya “Bersumpahlah patuh kalian pada Bungsu”. Maka merekapun bersumpah kecuali Sulung. Dia tidak termasuk yang patuh.
Ayah heran dan menanyakan apa yang menghalanginya untuk bersumpah di waktu Dia menyuruhnya. Dengan angkuh Sulung mengatakan dia lebih baik dari Bungsu. Dia lebih tua, berpengalaman dan lebih tangguh daripada Bungsu. Mendengar jawaban Sulung, Ayah malah memecat Sulung dari semua jabatan yang dipegangnya dan mengusirnya. Kau tidak sepatutnya menyombongkan diri, maka keluarlah, sesungguhnya kau termasuk orang hina.
Penuh kepahitan Sulung mengatakan pada Ayah karena beliau telah mengusirnya, dia benar-benar akan menghancurkan Bungsu dari perintah Ayah mereka dengan segala cara. Ayah akan mendapati Bungsu juga akan gagal. Dengan hati yang hancur Sulung mohon pada Ayah agar beliau memberi kesempatan padanya untuk menghancurkan Bungsu. Ayah yang adil mengabulkan permintaan Sulung karena dia percaya akan ketangguhan Bungsu. Ayah segera mengusir Sulung sebagai orang terhina tidak membawa apa-apa. Ayah berjanji jika Bungsu bandel dan mengikuti nasehat Sulung dia akan menghukumnya juga dengan sangat keras.
Ayah menyuruh Bungsu dan ISTRI (17 Tahun) mengelola Studio Perfilman. Tapi melarang mereka berdua jangan ikut terlibat menjadi aktor. Awalnya semua berlangsung lancar. Lalu Sulung membujuk keduanya dengan tipu daya. Sulung membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk membintangi film panas dan mengatakan Ayah tidak melarangnya jadi artis, melainkan supaya mereka berdua tidak populer dan terkenal. Sulung bersumpah pada keduanya dia memberi nasehat tanpa pamrih apapun.
Tatkala keduanya telah beradegan panas, tersebarlah ke media massa. Mereka panik dan berusaha menghentikan penyebarannya. Tapi akhirnya Ayah tahu juga. Penuh kecewa dan marah Ayah mengatakan bukankah dia telah melarang mereka berdua menjadi artis dan telah menasehatkan bahwa Sulung adalah musuh mereka. Nasi telah menjadi bubur. Keduanya mengakui telah mempermalukan diri mereka sendiri. Penuh penyesalan mereka minta Ayah memaafkan mereka dan memberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.
Ayah konsekuen mengusir mereka berdua. Tapi Ayah tetap menugaskan mereka mengelola perusahaannya yang paling prospek. Bungsu menerima beberapa nasehat dari Ayah, maka Ayah memaafkannya anak kesayangannya. Ayah menyuruh Bungsu segera bekerja. Ayah akan tetap memberi instruksi kepadanya agar Bungsu sukses. Tapi kalau dia tidak menjalankannya, perusahaan itu akan hancur. Perusahaan itu adalah kesempatan terakhir untuk membuktikan kemampuannya. Ayah menasehatkan agar Bungsu jangan sampai ditipu kedua kalinya oleh Sulung. Ia dan mata-matanya selalu mengintai Bungsu tanpa dia bisa mengetahuinya. Akankah Bungsu berhasil?