Studi kasus atas Hasan Basri, Wali dari Ulakan, Minangkabau
Dalam tradisi Islam dikenal kisah Nabi Musa menuntut ilmu pada Khidir. Siapakah nabi khidir? Dia adalah seorang wali yang mendapat ilmu dari Tuhan. Dalam negeri Islam kepercayaan akan wali hampir mirip dengan kisah reinkarnasi Dalai Lama di Tibet.
Cerita ini berawal dari pertemuan dengan seseorang yang bernama Hasan Basri (70-an tanun). Dari pihak bapak, beliau adalah keturunan dari Tuanku Nan Garang, salah seorang panglima Imam Bonjol, sedangkan dari pihak ibu dia berhubungan keluarga dengan AR.Sutan Mansur, salah satu tokoh Muhamadiyah yang sangat dihormati. Beliau lahir di daerah Ulakan, daerah asal Syekh Burhanudin yang menyebarkan agama Islam di pantai Barat Minangkabau, dan hingga kini makamnya masih ramai diziarahi.
Menurut beliau, dia adalah guru dari Buya Hamka, salah seorang ulama Indonesia yang sangat dihormati, pendiri Mesjid Al Azhar di Kebayoran, Jakarta Selatan. Menurut beliau dia menceritakan perjalanan hidupnya pada Hamka, yang kemudian ditulis menjadi buku Tasawuf Modern. Sejak muda dia hidup mengembara. Saat ini Hasan Basri tinggal di Sumatra Barat. Benarkah Hasan Basri memang benar-benar seorang wali yang masih hidup saat ini? Menurut Al Gazali, salah seorang pakar tasawuf mencari seorang wali ibarat mencari safir merah yang benar-benar langka.
Menurut Hasan Basri para pengikut tarekat adalah orang-orang yang berjalan menuju Tuhan. Tapi sangat sedikit yang bisa sampai. Mereka masih dalam perjalanan. Seorang Wali adalah orang yang sudah berhasil sampai menemui Tuhan. Salah satunya yang cukup terkenal di Jawa adalah Syekh Siti Jenar.
Melalui film dokumenter panjang ini, kita akan melihat keseharian hidupnya, wawancara atasnya dan pandangan beliau atas kejadian-kejadian aktual. Pendekatan yang diambil menggunakan paradigma New Age sebagai bentuk gerakan sadar diri seperti yang diajarkan Socrates ribuan tahun silam. Kenalilah Dirimu. Spiritualitas adalah hatinya agama. Menurut Danah Zohar dan Ian Marshall, Spiritual Quotient adalah puncak kecerdasan manusia, melebih IQ, EQ dan Multiple Intelligences lainnya. Menurut novelis James Redfield dalam The Celestine Prophecy, untuk mengubah dunia, kita harus mengubah diri kita terlebih dahulu. ( To change the world, we first had to change our selves)
Menurut Fisikawan genius Fritjof Capra penulis buku The Turning Point dan The Tao of Physics , dewasa ini dunia sedang diguncang krisis global multidimensional. Ini adalah krisis intelektual, moral dan spritual sekaligus. Nah para wali ini adalah Master yang mampu mengubah kesadaran dan persepsi manusia menuju jalan spiritual, jalan bagaimana seharusnya manusia menata hidupnya agar selaras dengan cara beroperasinya alam semesta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar